:)
“Penurunan Tarif Interkoneksi Awal Tahun 2011 dan Dampaknya Pada Industri Selular”

LOMBA KARYA TULIS XL AWARD 2010

 

Judul:

“Penurunan Tarif Interkoneksi Awal Tahun 2011 dan Dampaknya Pada Industri Selular” 

Tema: Regulasi pemerintah bidang telekomunikasi dan konsekuensi bagi industri selular 

Penulis: Imam Reiza Fahlevi

 

_____________________________________________________________________________________________________

 

“Penurunan Tarif Interkoneksi Awal Tahun 2011 dan Dampaknya Pada Industri Selular”

Pengaturan interkoneksi baik dari sisi ekonomis dan teknis sangat diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan interkoneksi antar operator telekomunikasi. Salah satu hal penting dalam pengaturan interkoneksi adalah penetapan biaya interkoneksi yang dapat dijadikan acuan bagi para penyelenggara dalam melakukan interkoneksi. Biaya interkoneksi ini sangat berpengaruh terhadap peningkatan dalam penyediaan interkoneksi dan pertumbuhan industri telekomunikasi sendiri. Perhitungan Biaya Interkoneksi berbasis biaya di Indonesia telah dimulai sejak tahun 2001 sebagai tindak lanjut implementasi UU 36/1999.

Perubahan tarif interkoneksi sendiri pertama kali pernah terjadi ketika Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor.: 08/Per/M.KOMINFO/02/2006 diberlakukan. Mengutip wacana dari artikel pada website milik BRTI (http://www.brti.co.id) Menurut Ketua BRTI saat itu, Bapak Basuki Yusuf Iskandar dalam rapat menyatakan bahwa “Semangat dari Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor.: 08/Per/M.KOMINFO/02/2006 adalah misi bersama menyehatkan industri telekomunikasi yang memiliki potensi pasar yang luar biasa.”  Sehingga dari sini dapat kita pahami bahwa perubahan tarif interkoneksi saat itu ditujukan untuk penyehatan industri telekomunikasi yang memang saat ini terbukti memiliki potensi pasar yang luar biasa dan masih terus berkembang.

Berikut perubahan tarif Biaya interkoneksi untuk jaringan bergerak seluler setelah Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor.: 08/Per/M.KOMINFO/02/2006 diberlakukan.

Berikut visualisasi sederhana dari perubahan tarif Interkoneksi 2008 saat itu:

Visualisasi Perubahan Tarif Operator Seluler


Dari gambar visualisasi di atas dapat kita amati bahwa banyak penurunan tarif pada interkoneksi menuju atau keluar dari seluler. Artinya terlihat jelas bahwa keputusan mentri waktu itu salah satu tujuannya untuk mendongkrak pertumbuhan Industri Telekomunikasi di Indonesia yang saat itu mulai memasuki tren komunikasi seluler.

Jika kita melihat kebelakang ke sekitar tahun 2008 memang banyak sekali perubahan kondisi industri telekomunikasi seluler di negara kita ini. Kita dapati bahwa jumlah pengguna seluler meningkat dengan pesat hingga saat ini di tahun 2010. Selain itu banyak juga operator-operator baru bermunculan bersaing dengan operator incumbent yang ada.

Perubahan tarif interkoneksi saat itu merubah industri pertelekomunikasi di Indonesia. Menurut analisa saya, setelah terjadi penurunan tarif interkoneksi, terjadilah fenomena costumer surplus di industri telekomunikasi. Costumer surplus ini berdampak pada kenaikan volume trafik dan peningkatan jumlah pengguna. Sehingga penyelenggara menjadi terdorong dalam hal produktifitas untuk menjawab kenaikan tersebut. Dari sisi regulator sendiri, dengan merubah tarif interkoneksi, tentunya mereka telah bersiap untuk mengantisipasi fenomena costumer surplus tadi. Regulator sendiri melakukan efisiensi di masalah perizinan penyelenggaraan, frekuensi, dan hal-hal lain yang menyangkut proses interkoneksi antar penyelenggara. Regulator juga berkembang menjadi badan yang menyediakan proses mediasi terhadap segala permasalahan interkoneksi antar operator.

Beberapa saat menjelang akhir tahun 2010, diumumkan kembali perubahan tarif interkoneksi oleh Kementrian KomInfo yang akan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2011. Berikut tabel perubahan untuk jaringan seluler per 1 Januari 2011.


Dibawah ini tabel deviasi perubahan harga yang saya buat sendiri untuk membandingkan kondisi tarif 2008 dan kondisi tarif mulai 1 januari 2011

Berikut visualisasi sederhana dari perubahan tarif Interkoneksi 2011:


Dari visualisasi sederhana dapat kita lihat semua jalur mengalami penurunan tarif. Dapat kita perkirakan bahwa fenomena costumer surplus akan terjadi kembali dan ini juga menunjukkan bahwa perkembangan pertumbuhan industri telekomunikasi seluler di Indonesia masih terus digenjot oleh pemerintah. Selain itu menurut http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=1613 fenomena yang terjadi hingga tahun 2010 ini adalah tarif panggilan antar operator lebih tinggi dibandingkan panggilan sesama operator. Tingginya tarif panggilan antar operator bisa jadi disebabkan oleh biaya interkoneksi yang sudah tidak up to date selain itu bisa juga disebabkan tarif panggilan antar operator digunakan untuk mensubsidi panggilan antar operator. Kondisi inilah yang menjadikan alasan perhitungan kembali tarif interkoneksi dan perubahan pada 1 Januari 2011.

Menurut analisa saya, dari tabel deviasi diatas, dapat kita lihat bahwa terjadi penurunan kisaran 5% pada setiap panggilan, hal ini dimungkinkan untuk mengurangi kondisi over price pada panggilan antar operator.  Dampaknya, mungkin akan merugikan operator karena saat ini trafik call dan sms mulai menurun sementara harga panggilan diturunkan semua. Namun jika kita lihat fenomena kenaikan trafik data yang melonjak di akhir tahun 2010 ini dengan layanan Blackberry Service dan Internet Broadband, perubahan 5% pada tarif panggilan dapat diimbangi dengan pendapatan dari kenaikan trafik data, bahkan bisa mendatangkan keuntungan jika dilakukan risk management yang baik pada penentuan tarif operator. Untuk tarif SMS sendiri dapat kita lihat di tabel bahwa ditetapkan pola Sender Keep All yang artinya masih dapat ditentukan oleh operator sendiri. Sehingga promosi tarif SMS yang menggiurkan pelanggan masih dapat dilakukan hingga BRTI menentukan peraturan tertentu.

Dari wacana di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa perubahan tarif interkoneksi adalah salah satu bagian dari revolusi Industri Telekomunikasi di Indonesia. Perubahan tarif interkoneksi 2011 bisa menjadi pisau bermata dua bagi tiap-tiap operator seluler. Entah itu menjadi nilai tambah atau nilai minus yang bisa membahayakan masing-masing operator, tinggal bagaimana tiap operator menyiasati agar trafik dan pengguna tidak menurun setelah perubahan tarif interkoneksi ini. Tentunya bagi kami para pengguna, kami menginginkan tarif dan kualitas berimbang pada setiap layanan yang diberikan oleh operator.